Kayong Utara, Kalbar – Ledaknews.com. Di tengah gempuran modernitas yang kian bising, sayup-sayup terdengar ketukan bambu yang membawa kita kembali ke pangkuan leluhur. Senggayong, alat musik tradisional khas Melayu Kayong, kini tidak lagi sekadar menjadi dongeng pengantar tidur atau pajangan berdebu di sudut museum. Di tangan generasi muda, bambu-bambu itu kembali bernapas.
Sebanyak 30 pelajar dari berbagai sekolah di Kabupaten Kayong Utara berkumpul bukan hanya untuk mendengar, melainkan untuk menyentuh, memotong, dan menyelaraskan nada Senggayong dengan tangan mereka sendiri. Kegiatan pelatihan pembuatan alat musik tradisional yang berlangsung pada 15-16 Juli 2026 ini menjadi bukti nyata bahwa warisan budaya tak boleh mati di tanahnya sendiri.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kayong Utara, Jumadi Gading, menaruh harapan besar pada pundak-pundak muda ini.
“Senggayong ini adalah identitas kita. Lewat pelatihan ini, kami ingin anak-anak tidak sekadar menjadi penonton, tetapi menjadi pencipta yang menjaga detak jantung budaya kita tetap hidup dari sekolah,” ungkapnya dengan penuh harap.
Selama dua hari, suasana dipenuhi aroma bambu basah dan tawa antusias. Para siswa dari SMAN 1 Sukadana hingga SMK Al Aqwam dengan tekun meraut bilah-bilah bambu, mencari nada yang pas di bawah bimbingan para pengrajin tua. Ada sebuah estafet nilai yang sedang terjadi—transmisi rasa cinta yang tulus dari generasi tua ke generasi muda.
Roki, salah satu peserta dari SMKN 1 Sukadana, memandang Senggayong buatannya dengan mata berbinar.
“Ternyata bikin senggayong itu susah-susah gampang, tapi sangat seru. Saya ingin membawa pulang ilmu ini dan mengajarkannya ke teman-teman di sekolah,” tuturnya bangga.
Langkah kecil ini adalah awal dari sebuah gerakan besar. Ketika bambu pertama diketuk oleh tangan seorang remaja, saat itulah kita tahu bahwa identitas Kayong Utara tidak akan pernah hilang ditelan zaman.(Red)