Sepuluh Hari Portal Bertahan: Puluhan Ton Sawit Membusuk, Dirut PT SRM Takut Hadapi Warga

Ketapang, Kalbar — Konflik lahan antara warga Dusun Mambuk, Desa Segar Wangi, Kecamatan Tumbang Titi, dengan perusahaan perkebunan PT SRM BGA Group belum menunjukkan tanda mereda.

Memasuki hari ke-10 aksi pemortalan di kawasan Divisi 1 Sungai Landau, Senin (25/5/2026), masyarakat tetap bertahan menjaga akses masuk perusahaan secara bergantian siang dan malam.

Di tengah terik dan hujan, warga tetap menduduki lokasi portal. Kaum ibu mengambil peran penting dengan menyiapkan logistik dan donasi harian agar aksi tetap berjalan. Bagi warga, perjuangan ini bukan lagi sekadar soal buah sawit, tetapi tentang harga diri, hak tanah, dan sikap perusahaan yang dinilai belum serius menyelesaikan konflik.

Aksi tersebut dipicu tuntutan masyarakat agar Direktur Utama PT SRM, Kamsen Saragih, turun langsung menemui warga untuk membuka dialog dan menyelesaikan persoalan yang selama ini dinilai berlarut-larut tanpa kepastian.

Di titik portal, warga memasang simbol adat berupa tepak sirih berbalut kain kuning dengan dua batang bambu runcing bersilang. Simbol itu disebut sebagai tanda persatuan sekaligus peringatan bahwa masyarakat masih berdiri teguh menjaga wilayah yang mereka klaim.

Seorang warga, Alang, menegaskan portal bukan hanya untuk menghentikan aktivitas panen di area sengketa, tetapi juga menjaga situasi agar tidak dimanfaatkan pihak tertentu.

“Kami berjaga supaya tidak ada yang bermain di belakang situasi ini. Jangan sampai ada pencurian buah atau provokasi yang membuat keadaan makin panas,” katanya.

Sementara itu, warga lainnya yang meminta disebut Bujang menyebut dampak ekonomi mulai terlihat nyata. Menurutnya, buah sawit di lapangan mulai membusuk karena perusahaan tidak lagi leluasa melakukan panen di wilayah yang ditutup warga.

“Potensi panen di Divisi 1 ini sekitar 96 ton. Tinggal dihitung sendiri kerugiannya. Tapi sampai sekarang perusahaan belum juga masuk. Buah sawit sudah banyak yang busuk di lapangan,” ujarnya.

Ia menilai sikap perusahaan justru memperlihatkan kebuntuan dalam menghadapi konflik tersebut.

“Kalau melihat kondisi sekarang, perusahaan seperti mati langkah. Salah langkah sedikit bisa makin memperbesar masalah,” katanya.

Bujang juga menyinggung sikap perusahaan yang menurutnya berbeda dari pola penanganan konflik perkebunan yang kerap terjadi di berbagai daerah.

“Kalau mereka benar-benar yakin semua HGU itu kuat dan tidak bermasalah, biasanya perusahaan akan keras. Bahkan ada yang sampai benturkan aparat dengan warga. Tapi di sini sampai sekarang tidak ada langkah seperti itu,” sindirnya.

Meski melontarkan kritik tajam, warga mengaku tetap ingin penyelesaian dilakukan melalui jalur dialog dan tanpa benturan fisik di lapangan.

Hingga berita ini diterbitkan, situasi di portal Divisi 1 Sungai Landau masih terpantau aman dan kondusif. Pihak PT SRM BGA Group belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan warga maupun kondisi sawit yang disebut mulai membusuk di area sengketa.

Media ini tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada pihak perusahaan, pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta anggota DPRD dari daerah pemilihan setempat guna menjaga keberimbangan informasi.(Red) 

Recommended For You

About the Author: ledaknews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *