Rasio Elektrifikasi 99 Persen, Dusun Segok–Sebaboy Sanggau Tak Pernah Nikmati Listrik Negara

Sanggau, Kalbar – Ledaknews.com.(Selasa 27 Juli 2026). Semangat kemerdekaan dan pemerataan pembangunan kembali dipertanyakan. Hingga lebih dari tujuh dekade Indonesia merdeka, warga Dusun Segok–Sebaboy, Desa Sebuduh, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, mengaku belum pernah menikmati aliran listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Kondisi ini mencerminkan masih adanya kesenjangan pembangunan infrastruktur dasar di wilayah pedalaman.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), rasio elektrifikasi nasional telah melampaui 99 persen. Namun capaian tersebut belum sepenuhnya mencerminkan pemerataan akses listrik, khususnya di wilayah terpencil dan perbatasan. Sejumlah daerah di Kalimantan Barat masih tercatat memiliki desa dan dusun yang belum teraliri listrik PLN secara permanen.

Warga Dusun Segok–Sebaboy menyebut telah berulang kali mengajukan permohonan pemasangan jaringan listrik melalui proposal resmi kepada pemerintah dan instansi terkait. Namun seluruh pengajuan tersebut belum membuahkan hasil. Bahkan proposal terakhir yang diajukan pada tahun 2025 hingga kini belum mendapat tanggapan.

Medi, salah satu warga Dusun Segok–Sebaboy, mengatakan ketiadaan listrik telah berlangsung selama puluhan tahun dan berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat.

“Sudah puluhan tahun kami hidup tanpa listrik negara. Proposal kami ajukan dari tahun ke tahun, terakhir pada 2025, tetapi sampai sekarang tidak ada jawaban. Kami merasa seperti diabaikan,” ujar Medi kepada tim Media Senin(26/01/2026).

Hal senada disampaikan Paulus, warga lainnya. Ia menuturkan bahwa dusun mereka sama sekali belum pernah dialiri listrik PLN. Selama ini masyarakat hanya mengandalkan listrik tenaga surya dengan kapasitas terbatas.

“Selama puluhan tahun kampung kami tidak ada listrik dari PLN. Kami hanya menggunakan tenaga surya yang dayanya sangat terbatas. Untuk penerangan saja kadang tidak cukup, apalagi untuk kebutuhan belajar anak-anak,” kata Paulus.

Menurut Paulus, keterbatasan daya listrik membuat warga tidak dapat menggunakan peralatan elektronik dasar secara optimal. Kondisi ini berdampak pada rendahnya produktivitas ekonomi masyarakat, terutama bagi pelaku usaha kecil dan petani yang membutuhkan listrik untuk pengolahan hasil produksi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ketersediaan listrik merupakan salah satu indikator penting dalam peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), khususnya pada aspek pendidikan dan standar hidup layak. Ketiadaan listrik berkontribusi terhadap rendahnya akses pendidikan, informasi, serta layanan ekonomi masyarakat pedesaan.

Warga menilai belum teralirinya listrik ke Dusun Segok–Sebaboy mencerminkan belum optimalnya pelaksanaan prinsip keadilan sosial dan pemerataan pembangunan di Kabupaten Sanggau. Di tengah gencarnya program pembangunan nasional dan daerah, mereka masih harus hidup tanpa akses energi dasar.

Masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Sanggau, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, serta Pemerintah Pusat untuk turun langsung ke lapangan, melakukan verifikasi kondisi wilayah, dan merealisasikan program elektrifikasi secara konkret, bukan sekadar wacana.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Sanggau maupun pihak PLN terkait belum tersedianya jaringan listrik di Dusun Segok–Sebaboy, Desa Sebuduh.

Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada Pemerintah Kabupaten Sanggau, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, serta pihak PLN terkait belum tersedianya jaringan listrik di Dusun Segok–Sebaboy, Desa Sebuduh. Hak jawab dapat disampaikan melalui saluran resmi redaksi untuk dimuat secara berimbang sesuai Undang-Undang Pers.

Red

Editor: Ali

Sumber: Andus. M/Tim PWK

Recommended For You

About the Author: ledaknews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *