Ketapang, Kalbar – Ledaknews.com/ Bau sangit kayu terbakar dan pekatnya asap putih masih membumbung tinggi di atas hamparan lahan yang tersisa. Di tengah kepulan asap yang menyesakkan dada, gumpalan api seharian terus dipadamkan oleh petugas gabungan. Namun, suasana di garis depan pertempuran melawan jelaga ini terasa berbeda saat orang nomor satu di Kabupaten Ketapang ikut berada di barisan paling depan.
Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, turun langsung ke lokasi Karhutla. Tanpa jarak, ia memegang selang, menyemprotkan air, dan berjibaku menembus pekatnya asap bersama personel TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, relawan, hingga Tim Satgas Karhutla. Kehadirannya di tengah ladang yang terbakar membakar semangat para petugas yang telah kelelahan bertaruh tenaga sejak pagi.
Ketika letupan api mulai terkendali, giliran rasa lelah yang melebur. Beralaskan tanah yang menghitam dan dikelilingi sisa asap yang menyengat, Bupati Alexander Wilyo tampak duduk bersila di atas tanah bersama seluruh regu pemadam. Tak ada meja jamuan mewah; hanya bungkus kertas cokelat berisi nasi sederhana yang disantap bersama.
Di tempat itulah, sekat birokrasi, perbedaan seragam, dan tingkatan jabatan seketika sirnah. Kepala daerah dan anggota tim di lapangan duduk sejajar, berbagi cerita, lalu sesekali melepaskan tawa ringan yang memecah keheningan lahan pascaterbakar.
”Sebungkus nasi ini terlihat biasa. Namun saat disantap bersama di tengah kepulan asap setelah berjuang memadamkan api, kebersamaan inilah yang menjadi energi luar biasa. Di sini tidak ada beda jabatan, kita semua satu tujuan: menjaga Ketapang,” tegas Alexander Wilyo di sela-sela waktu istirahatnya.
Perjuangan menyelamatkan bumi Ketapang dari ancaman Karhutla tidak hanya digerakkan oleh mesin pompa air dan selang pemadam, tetapi juga dihidupkan oleh urat nadi persaudaraan. Dari hamparan tanah yang terbakar itu, terlihat jelas bahwa semangat gotong royong dan rasa cinta pada tanah kelahiran masih berdiri kokoh di garis depan. (Yun)