Lingga,kepri-Ledaknews.com Penuba, Kecamatan Selayar, Kabupaten Lingga ( 16/04/ 2026)
Di antara riak gelombang Selat Penuba dan rimbunnya pohon kelapa, berdirilah Desa Penuba — salah satu desa tertua di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Desa ini bukan sekadar permukiman. Di jantungnya, terdapat Pasar Desa Penuba, yang dahulu menjadi urat nadi ekonomi dan saksi bisu kemajuan peradaban masyarakat pesisir sejak puluhan tahun silam.
*Jejak Kejayaan di Masa Silam*
Bagi para tetua kampung, Pasar Desa Penuba bukan tempat asing. Dahulu, sekitar era 1970-an hingga awal 2000-an, pasar ini adalah pusat denyut ekonomi Kecamatan Selayar. Letaknya yang strategis di jalur pelayaran tradisional menjadikan Penuba sebagai titik temu pedagang dari pulau-pulau sekitar: Singkep, Lingga, hingga Daik.
“Kalau zaman dulu, kapal pompong dari pulau lain sandar di sini bawa kopra, sagu, ikan kering. Pulangnya bawa kain, gula, minyak dari pasar kita,” kenang Pak Arifin, 68 tahun, tokoh masyarakat Penuba. “Pasar ini ramai dari subuh. Orang belanja kebutuhan dapur, baju, sampai alat nelayan semua ada. Penuba itu kota kecilnya Selayar.”
Pada masa itu, Pasar Desa Penuba menjadi simbol kemajuan. Transaksi barter perlahan berganti dengan uang. Berbagai jenis barang kebutuhan sehari-hari — beras, rempah, pakaian, perkakas rumah tangga — tersedia. Aktivitas pasar menandakan bahwa peradaban ekonomi masyarakat Penuba telah bergerak maju, jauh sebelum modernisasi menyentuh daerah lain di Lingga.
*Potret Kini: Bertahan di Tengah Kemunduran*
Namun, roda waktu terus berputar. Kini, wajah Pasar Desa Penuba tampak berbeda. Jika dilihat dari jalan depan, kemunduran itu terasa signifikan. Kios-kios kayu banyak yang lapuk dan kosong. Hanya tersisa beberapa pedagang yang masih setia berjualan: sayur, ikan asin, kelontong, dan jajanan pasar.
Jumlah pembeli menurun drastis. Sepinya aktivitas membuat sebagian pedagang mengaku kesulitan untuk sekadar bertahan hidup. “Dulu sehari bisa dapat Rp300 ribu bersih. Sekarang Rp50 ribu saja susah,” ujar Ibu Salmah, pedagang sayur yang sudah 25 tahun berjualan di pasar ini.
Sepinya pasar tidak lepas dari beberapa faktor. Pertama, pergeseran jalur transportasi. Dengan adanya pelabuhan yang lebih besar di Dabo Singkep dan akses jalan darat yang membaik, masyarakat desa tetangga kini lebih memilih berbelanja ke pasar yang lebih lengkap. Kedua, lemahnya perputaran uang di tingkat desa. Minimnya aktivitas ekonomi dan lapangan kerja membuat daya beli masyarakat menurun. Ketiga, generasi muda Penuba banyak yang merantau, meninggalkan desa dengan dominasi penduduk usia lanjut.
*Antara Sejarah dan Harapan*
Meski mengalami kemunduran, Pasar Desa Penuba tetap punya makna. Ia adalah artefak hidup tentang bagaimana sebuah desa pesisir pernah menjadi pusat peradaban ekonomi lokal. Bangunan pasar yang mulai rapuh itu menyimpan memori kolektif tentang kejayaan maritim dan kemandirian ekonomi masyarakat Lingga tempo dulu.
Pemerintah Desa Penuba melalui Kepala Desa menyatakan sedang mengupayakan revitalisasi. “Kami sadar pasar ini adalah identitas. Rencananya akan kami ajukan perbaikan infrastruktur dan buat kegiatan rutin bulanan untuk menarik orang datang lagi,” ujarnya saat ditemui di kantor desa.
Bagi pedagang yang tersisa, harapan itu yang membuat mereka bertahan. Setiap pagi lapak tetap dibuka, meski pembeli hanya satu-dua orang. Sebab bagi mereka, Pasar Desa Penuba bukan sekadar tempat mencari nafkah. Ia adalah warisan. Ia adalah bukti bahwa desa ini pernah, dan bisa kembali, maju.
Hingga kini, di antara sepi dan lapuknya papan kios, Pasar Desa Penuba tetap berdiri — menunggu zaman kembali berpihak, menunggu kejayaan itu terulang sekali lagi.
(Suryadi/cut)