Kayong Utara, Kalbar —Ledaknews.com// Di balik megahnya panggung Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Provinsi Kalimantan Barat di Kabupaten Kayong Utara yang berdekatan dalam rangka menyambut HUT ke-81 RI, Agustus 2026 lalu, tersimpan cerita getir yang mengocok perut. Di atas panggung, lantunan ayat suci bergema merdu; di bawah panggung, para panitia tampil gagah berbalut seragam batik anyar.
Namun, senyum ramah yang terpancar dari wajah panitia saat menyambut tamu kontingen se-provinsi nyatanya menyimpan beban emosional yang cukup berat. Usut punya usut, seragam batik yang mereka kenakan ternyata hasil berutang di tukang jahit lokal.
Kisah mengocok perut sekaligus miris ini mengemuka ke publik setelah diunggah oleh akun Facebook Ijul kku dan dikutip media.
”Jangankan uang honor, untuk baju batik saja kami bayar sendiri tanpa ada penggantian. Bahkan sampai sekarang masih ada panitia yang menunggak di tukang jahit. Tukang jahitnya menagih tiap hari, beralasan uangnya mau dipakai untuk pengajian Yasinan,” ungkap salah seorang panitia dengan nada kelakar bercampur kekesalan.
Drama Anggaran Rp300 Juta yang Menguap
Kekecewaan para panitia bukan tanpa alasan. Berdasarkan Rencana Anggaran Biaya (RAB) awal, alokasi anggaran honor panitia sejatinya sudah diplot sebesar Rp300 juta. Sebagian panitia bahkan sudah mengalkulasi dana tersebut untuk menutup biaya jahit batik hingga membeli kebutuhan pokok rumah tangga.
Namun, harapan itu pupus seketika setelah anggaran honor tersebut mendadak dipangkas habis. Ketua Panitia beralasan, pemangkasan dilakukan akibat keterbatasan anggaran awal, sementara pos pengeluaran lain seperti bidang musabaqah, perlengkapan, konsumsi, kesehatan, hingga keamanan dinilai lebih mendesak untuk dipenuhi.
Permintaan maaf pun disampaikan pihak penyelenggara atas keterlambatan penyampaian informasi pengalihan anggaran tersebut. Sayangnya, bagi para petugas di lapangan, pemberitahuan yang terlambat itu tak ubahnya pelipur lara yang tak menyelesaikan masalah.
Jadi Bahan Kelakar di Warung Kopi
Kini, usai perhelatan usai dan para juara pulang membawa piala, nasib panitia lokal justru menjadi bahan seloroh warga di warung-warung kopi sekitar Sukadana.
”Eh, kau panitia MTQ juga, ‘kan?”
“Iya, benar.”
“Dapat honor berapa?”
“Dapat pahala… plus nota utang batik di kios Hj. Siti.”
Candaan tersebut menjadi makanan sehari-hari para panitia yang hingga kini masih menanti kepastian. Kelakar di masyarakat bahkan menyebut seragam batik yang dibeli secara kredit itu kini mulai luntur karena sering dipakai ke acara kondangan, sementara kejelasan honor masih gelap gulita.
”Semoga sebelum batiknya robek, kejelasan honor Rp300 juta itu ada hilalnya. Kalau tidak, MTQ tahun depan panitia pakai kaos oblong saja lebih murah dan bebas dari kejaran tukang jahit,” seloroh warga setempat.
Fenomena ini meninggalkan pesan moral tersendiri bagi masyarakat Sukadana: Jangan memberanikan diri menjadi panitia jika tidak memiliki ketahanan iman dan daya tahan ekstra menghadapi tagihan tukang jahit.(Yun/Red)
Sumber: Facebook Ijul KKU