Kayong Utara, Kalbar – Ledaknews.com.(20 Juni 2026) Hamparan kebun kelapa yang membentang luas di Kecamatan Pulau Maya seharusnya menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat.
Namun kenyataan yang dirasakan para petani saat ini justru sebaliknya. Di saat harga kebutuhan pokok terus merangkak naik, harga kelapa yang menjadi sandaran hidup mereka malah jatuh hingga ke titik yang membuat banyak keluarga petani semakin terpuruk.
Keluhan itu disampaikan masyarakat Dusun Limau Manis, Desa Satai Lestari, Kabupaten Kayong Utara. Mereka mengaku hasil panen yang diperoleh kini tidak lagi mampu mengimbangi biaya hidup yang terus meningkat.
Bagi para petani, setiap butir kelapa yang dipanen bukan sekadar hasil kebun. Di dalamnya ada harapan untuk membayar biaya sekolah anak, memenuhi kebutuhan dapur, memperbaiki rumah, hingga membiayai kehidupan keluarga sehari-hari. Namun harapan itu kini seolah ikut jatuh bersama merosotnya harga kelapa.
“Harga kelapa saat ini sangat murah, Pak. Tidak berimbang dengan harga barang kebutuhan lain. Kami berharap ada kebijakan dan perhatian pemerintah agar petani kelapa bisa menikmati hasil kebun kami dengan lebih baik. Kami juga ingin bisa menyekolahkan anak dan hidup layak seperti masyarakat lainnya,” ungkap Jubir saat diwawancarai beberapa waktu lalu.
Saat ini harga kelapa bulat di tingkat petani hanya berkisar Rp1.500 hingga Rp2.000 per kilogram. Sementara harga kopra berada di angka sekitar Rp5.000 per kilogram. Harga tersebut dinilai jauh dari harapan dan belum mampu memberikan keuntungan yang layak bagi para petani.
Ironisnya, saat petani menjual hasil panennya dengan harga murah, mereka tetap harus membeli kebutuhan pokok dengan harga yang terus meningkat. Kondisi ini membuat banyak petani merasa menjadi pihak yang paling rentan dalam rantai perdagangan komoditas kelapa.
Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dapat segera mengambil langkah nyata untuk menjaga stabilitas harga kelapa serta membuka peluang pasar yang lebih baik. Mereka meyakini bahwa jika ada keberpihakan dan kebijakan yang tepat, sektor perkebunan kelapa dapat kembali menjadi penopang ekonomi masyarakat pesisir.
Di Pulau Maya, pohon-pohon kelapa masih berdiri kokoh diterpa angin laut. Namun di bawahnya, ribuan petani sedang menyimpan kegelisahan yang sama: apakah hasil kerja keras mereka masih mampu menjamin masa depan keluarga dan anak-anak mereka?
Ketika harga kelapa terus merosot, yang sebenarnya sedang jatuh bukan hanya nilai sebuah komoditas, melainkan juga harapan hidup para petani yang selama ini menggantungkan masa depan dari hasil bumi mereka sendiri.(Tim/Red)