Dosa Ekologis Renggut Nyawa: Saat Air Bersih Lebih Mahal dari Nyawa Warga Ketapang

Ketapang, Kalbar — Ledaknews.com. 07 September 2026// Musim kemarau panjang yang menghantam Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menelanjangi kenyataan pahit: ruang hidup warga telah hancur digilas industri ekstraktif.

Demi setetes air bersih untuk bertahan hidup, empat warga Desa Persiapan Bayangan, Kecamatan Nanga Tayap, terpaksa bertaruh nyawa hingga tewas di dasar lubang bekas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) kawasan Rawangan Kecil, Senin (31/8/2026).

Tragedi memilukan ini bukan sekadar kecelakaan kerja, melainkan bunuh diri massal secara tidak langsung yang dipaksa oleh rusaknya ekosistem. Korban berinisial SAK (28), SAH (41), PK (22), dan JY (21) tak lagi punya pilihan. Sungai-sungai yang dulunya menjadi tumpuan hidup kini berubah menjadi parit racun dan limbah akibat masifnya tambang ilegal dan ekspansi perkebunan skala besar yang memonopoli sumber air.

Kapolres Ketapang, AKBP Muhammad Harris, membenarkan insiden berdarah ini. Ironisnya, para korban mendatangi lubang tambang maut tersebut bukan untuk mengais sisa emas, melainkan mencari sisa-sisa air rawa di dasar galian demi menyambung hidup keluarga di rumah.

Bencana bermula saat salah satu korban turun ke kedalaman lubang untuk menyesuaikan posisi mesin pompa air karena selang tak lagi mampu menjangkau dasar air. Seketika mesin menyala, jebakan gas beracun serta kondisi krisis oksigen melumpuhkan korban. Niat suci tiga rekannya yang mencoba menolong justru berubah menjadi mimpi buruk: satu per satu dari mereka ikut tumbang terhirup racun di dalam kubangan yang sama.

Proses evakuasi oleh warga berakhir dengan duka membentang. Tiga orang ditemukan tewas merenggang nyawa di tempat, sementara satu korban lainnya mengembuskan napas terakhir dalam perjalanan menuju fasilitas kesehatan.

Tragedi ini menjadi tamparan keras sekaligus alarm bahaya atas darurat ekologis di Kalimantan Barat. Ketika korporasi dan pertambangan mengeruk keuntungan dari alam Ketapang, warga lokal justru dirampas hak dasarnya atas air bersih, hingga harus membayar harga termahal dengan nyawa mereka sendiri. Pemerintah dan aparat penegak hukum dituntut tidak menutup mata: hilangnya empat nyawa ini adalah bukti nyata bahwa kerusakan lingkungan telah membunuh rakyat secara perlahan.(Red) 

Recommended For You

About the Author: ledaknews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *